Bertumbuh

 Menyukai bunga bukan berarti kamu harus mematahkan dan memisahkan ia dari tangkainya, kamu masih memiliki pilihan untuk membiarkannya agar ia mekar dengan indah. 


Sama halnya dengan bagaimana caramu menyukai seseorang, rawat jika bisa, dan jika belum mampu, kamu bisa membiarkannya tanpa merusak

Urusan asmara itu tidak lah mudah, ada yang menyukai namun ia berani mematahkan bunga dari tangkainya, kemudian bunga itu menjadi layu karena tidak dirawat dengan baik, bunga itu dibiarkan begitu saja sampai layu, rusak dan mati. 

      Ada pula yang menyukai bunga, tapi sadar bahwa ia belum bisa membeli dan merawat nya, maka cukuplah ia melihat nya tanpa menyentuh dan mematahkan nya, sebab ia tahu, bunga itu jika dirawat dengan main-main hanya akan menjadikannya terbuang dengan sia sia.

Dan ada juga seseorang yang ia akhirnya memilih untuk membeli atau meminta izin untuk membawa bunga itu pulang, ia merawat bunga itu dengan kesabaran dan penuh penghot, hingga bunga itu berbunga dengan sempurna dan indah dimata. 


    "Kita tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi ranting, yang ditinggalkan oleh daun yang gugur dan jatuh, tapi setidaknya jangan sampai kita mematahkan ranting itu, siapa tahu ia sedang menunggu tunas daun yang baru sambil mengusap air mata kesedihan dan berdamai dengan daun yang dulu pergi"


Semua yang menenangkan, pasti akan terasa menyenangkan. Namun yang menyenangkan belum tentu menenangkan, kamu boleh saja tertawa pada saat itu, tapi isi hatimu bisa saja mendung atau bahkan hujan dengan begitu derasnya tanpa henti. 


Unik ya, pilihan itu.

Orang-orang datang dan pergi dalam hidupmu, ada yang memberi kesan baik dan ada pula yang kamu berharap ia tidak datang lagi, ada yang menetap sementara dan ada yang hanya sekedar bertamu, semuanya mengajarkan bahwa hidup memang soal pergantian dan seni menyikapi rasa juga sikap. 

Pada akhirnya kita akan mulai belajar mengikhlaskan, bukan karena kita sepenuhnya rela, tapi sebab kita ingin kedamaian, bebas, & melepaskan. Beberapa hal indah, yang sedih, mungkin tak bisa dilupakan begitu saja, tapi kita bisa belajar untuk rela & mulai mengenang sekadarnya.

Saat seseorang menghilang, saat sesuatu harus hengkang, dan juga lepas dari genggaman, itu tak selalu berarti hukuman. Sebab, itu boleh jadi cara Allah membuat langkah kita lebih ringan. Tak terikat, atau terpaut. Melepas adalah cara agar kita bisa terbang bebas.

Yang menyakitkan itu bisa jadi menyadarkan. Yang menyedihkan itu mungkin menguatkan. Dan pada akhirnya membuat kita belajar banyak hal.




Peri, kala itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak ada yang bisa menerima aku (2)

Berdiam

Bertemu